HUT 18 Tahun Bawaslu: Mengukuhkan Demokrasi
|
Calang | Badan Pengawas Pemilihan Umum, Pada hari ini, Bawaslu genap menapaki usia ke-18, Kamis (9/4/2026). Momentum ini menjadi refleksi panjang atas dedikasi lembaga dalam mengawal integritas demokrasi di Indonesia sejak resmi dibentuk permanen pada 9 April 2008 silam melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007.
Perjalanan Bawaslu merupakan catatan transformasi sejarah yang signifikan. Jauh sebelum memiliki struktur yang kokoh seperti sekarang, pengawasan pemilu di tanah air telah dimulai sejak tahun 1982 melalui Panitia Pengawas Pelaksanaan Pemilu (Panwaslak). Kini, dari lembaga yang dulunya bersifat ad hoc, Bawaslu telah berevolusi menjadi lembaga permanen yang independen dan profesional hingga ke tingkat kabupaten/kota.
Menanggapi perjalanan dua dekade tersebut, Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, dalam peringatan HUT di Jakarta menekankan bahwa usia 18 tahun adalah cerminan dari dinamika dan kerja kolektif. Ia mengenang masa-masa awal di mana Bawaslu harus bekerja di tengah keterbatasan sistem dan fasilitas yang belum mapan.
"Dulu kita di gedung yang sempit, sekarang kita punya struktur yang besar, serta dukungan SDM dari para ASN yang semakin banyak. Namun dari keterbatasan itulah, semangat membangun lembaga ini tumbuh dan menguat," ujar Bagja.
Bagja menegaskan bahwa Bawaslu bukan sekadar lembaga negara, melainkan ruang bagi seluruh insan pengawas untuk terus belajar dan berkembang demi menjaga kedaulatan hak pilih rakyat. Sejalan dengan semangat tersebut, peringatan tahun ini mengusung slogan utama: "18 Tahun Bawaslu Mengukuhkan Demokrasi".
Slogan tersebut bukan sekadar deretan kata, melainkan manifestasi dari tekad Bawaslu untuk tetap berdiri tegak sebagai pilar utama yang menjamin proses pemilu tetap jujur dan adil. Usia 18 tahun menjadi penanda fase kedewasaan lembaga, di mana pengawasan yang kuat diakui sebagai syarat mutlak bagi demokrasi yang sehat.
Momentum ini menjadi pijakan untuk terus meningkatkan kualitas pencegahan dan pengawasan, dengan tujuan mewujudkan pemilu yang tidak hanya sukses secara prosedural, tetapi juga berkualitas secara substansial bagi masa depan bangsa.
Penulis : Muzakir Ikram
Editor : Hidayatullah